THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES

29 Oktober, 2009

Yang Terdalam . . . . .

Dalam . . . . . .

Dalam . . . . . .

Dalam . . . . . .

Ku Bertanya Pada Kedalaman Hatiku . . . . . .

Sesuatu Apakah Yang Begitu Dalam ? ? ? ? ?

Mengalahkan Dalamnya Lautan ? ? ? ? ?

Hipotesa Yang Ku Dapat Adalah Dalamnya Hati . . . . .

Dalamnya Hati ? Benarkah Itu Yang Lebih Dalam Dari Lautan ? ? ? ?

Semakin Ku Bertanya Pada Kedalaman Hatiku,

Semakin Pertanyaan Ini Tak Terjawab Olehku

Dan Ketika Ku Hentikan Pencarian Ini,

Sisi Lain Di Ruang Hatiku Memunculkan Jawaban Lain . . . . . .

Sesuatu Yang Melebihi Dalamnya Lautan Adalah . . . . . .

Cinta Seseorang Kepada Kekasihnya . . . . . .

Kembali Timbul Pertanyaan Di Benakku,

Benarkah Cinta Melebihi Dalamnya Laut ? ? ? ? ?

Kemudian, Sisi Lain Di Ruang Hatiku

Memunculkan Jawaban Yang Lain Lagi

Sesuatu Yang Melebihi Dalamnya Lautan Adalah

Rasa Sayang Orang Tua Kepada Anaknya

Kembali Sebuah Pertanyaan Terlintas

Benarkah Rasa Sayang Melebihi Dalamnya Lautan ? ? ? ? ?

Hingga Akhirnya,

Hati Kecilku Memunculkan Suatu Jawaban

Hal Yang Melebihi Dalamnya Lautan Adalah

Rahmat Tuhan Kepada Ciptaan-Nya

Aku Terpekur Sejenak . . . . . .

Dan Kutanya Pada Semua Sisi Di Ruang Hatiku

Semua Membenarkannya

Akhirnya, Jawaban Yang Muncul Tidak Lagi Menimbulkan Jawaban Lain



Created By : MUSA.KATUMBABA

19 Oktober, 2009

Puisi Tak Berdawai . . . . .

Jika Aku Ada . . . .

Pernahkah Kau Merasa Senang ?

Pernahkah Kau Merasa Bahagia ?

Pernahkah Kau Memikirkan Arti Keberadaanku ?

Pernahkah Kau Merasakan Arti Keberadaanku ?

Pernahkah Kau Memikirkan Perasaanku Terhadapmu ?

Pernahkah Kau Merasakan Apa Yang Aku Rasakan

Pernahkah Kau . . . . . . . ? ?

Pernahkah . . . . . . ? ? ?

Jika Aku Tak Ada . . . . .

Akankah Kau Merasakah Ketidakhadiranku ?

Akankah Kau Merasa Kehilanganku ?

Akankah Kau Merasakan Sedih Tanpaku?

Akankah Kau . . . . ? ? ?

Akankah . . . . ? ? ?

Atau Mungkin . . . . . .

Kau Akan Merasakan Kegembiraan Yang Belum Pernah Kau Rasakan Selama Aku Berada Di Dekatmu ? ? ? ?

07 Oktober, 2009

air mata rasulullah

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.

Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?" "Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut.

Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang. "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya.

Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. "Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu.

Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.

"Engkau tidak senang mendengar khabar ini?" Tanya Jibril lagi. "Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?" "Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya," kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini."

Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. "Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. "Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku. "Badan Rasulullah mulai ding! in, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi.

Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku - peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu." Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. "Ummatii, ummatii, ummatiii?" - "Umatku, umatku, umatku"

Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.

NB:
Kirimkan kepada sahabat-sahabat muslim lainnya agar timbul kesadaran untuk mencintai Allah dan RasulNya, seperti Allah dan Rasulnya mencintai kita.

Karena sesungguhnya selain daripada itu hanyalah fana belaka. Amin...

Usah gelisah apabila dibenci manusia karena masih banyak yang menyayangi mu di dunia tapi gelisahlah apabila dibenci Allah karena tiada lagi yang mengasihmu diakhirat.